Pagi ini mentari sengaja memperlihatkan sinarnya dengan
sempurna, perlahan angin semilir mengusik telingaku dengan perlahan. Cuaca pagi
ini cukup cerah. Ku awali hari dengan berjalan kaki menyusuri panjangnya jalan
yang terbentang untuk menuju kesekolahku. Saat sampai dipersimpangan jalan aku
melihat seorang nenek, nenek yang hendak ingin menyebrang jalan tapi terlihat
nenek itu sepertinya sedang ketakutan melihat mobil yang brlalu lalang dengan
kecepatan diatas normal.
“hmmm… kasihan nenek itu, kemana sih anak-anaknya??” pikirku dalam hati. Seharusnya kan wanita setua itu kemana-mana harus ditemani. Runtukku dalam hati.
tiba-tiba ada tangan lembut menuntun nenek tersebut menyusuri aspal yang dipenuhi deru kendaraan tersebut. Setelah sampai disebrang nayla mmberikan nenek tersebut bungkusan seperti bungkusan makanan, ntahlah aku pun tak tau pastinya.
“Nayla” kata ku pelan. Yaa.. Nayla Teman sekelas ku yang menurutku penampilannya kuno, bayangin aja dia memakai pakaian yang sedikit kebesaran dengan ukuran badannya. Jilbab yang menutupi hampir seluruh badannya. Uwwoooow… gak kontras banget kan dengan zaman sekarang.
“Assalamualaikum Chika… “ sapa nayla dengan senyum yang terkembang
“waalaikum salam” jawabku agak gugup
“kamu mau kesekolah?? Barengan yuk “
“hheh.. boleh”
“itu tadi nenek kamu nay?” tanyaku perlahan.
“yang tadi? Ohh… bukan”
“aku pikir nenek kamu. Aku sering liat kamu memberikan sesuatu ke nenek itu tiap pagi. kamu kok perhatian banget sama nenek itu?”
“hmm.. nenek itu sebatang kara , dia ditinggal pergi oleh anak anaknya, aku cuma bantu nenek itu aja kok” jawab nayla denga senyumnya yang khas, matanya yang teduh dan wajahnya yang trus terang aja buat aku ngerasa damai. Hmmm.. aku pikir pikir ni anak baik juga yaa… salut aku dengan kebaikan hatinya.
“hmmm… kasihan nenek itu, kemana sih anak-anaknya??” pikirku dalam hati. Seharusnya kan wanita setua itu kemana-mana harus ditemani. Runtukku dalam hati.
tiba-tiba ada tangan lembut menuntun nenek tersebut menyusuri aspal yang dipenuhi deru kendaraan tersebut. Setelah sampai disebrang nayla mmberikan nenek tersebut bungkusan seperti bungkusan makanan, ntahlah aku pun tak tau pastinya.
“Nayla” kata ku pelan. Yaa.. Nayla Teman sekelas ku yang menurutku penampilannya kuno, bayangin aja dia memakai pakaian yang sedikit kebesaran dengan ukuran badannya. Jilbab yang menutupi hampir seluruh badannya. Uwwoooow… gak kontras banget kan dengan zaman sekarang.
“Assalamualaikum Chika… “ sapa nayla dengan senyum yang terkembang
“waalaikum salam” jawabku agak gugup
“kamu mau kesekolah?? Barengan yuk “
“hheh.. boleh”
“itu tadi nenek kamu nay?” tanyaku perlahan.
“yang tadi? Ohh… bukan”
“aku pikir nenek kamu. Aku sering liat kamu memberikan sesuatu ke nenek itu tiap pagi. kamu kok perhatian banget sama nenek itu?”
“hmm.. nenek itu sebatang kara , dia ditinggal pergi oleh anak anaknya, aku cuma bantu nenek itu aja kok” jawab nayla denga senyumnya yang khas, matanya yang teduh dan wajahnya yang trus terang aja buat aku ngerasa damai. Hmmm.. aku pikir pikir ni anak baik juga yaa… salut aku dengan kebaikan hatinya.
Nayla, sosok
gadis yang ramah dan pintar dan sederhana, banyak teman sekolahku yang menyukai
Nayla. Mungkin karna kerendahan hati dan keramahan nya itu. Dia baik dan suka
menolong siapapun yang butuh bantuan. Tak kupungkiri terkadang aku heran
melihat kebaikan anak ini. Pernah suatu waktu aku brtemu dengan Nayla dijalan tepat
pukul 10 malam . saat aku tanya dia hendak kemana . dia menjawab mau kerumah
Ratih , membantu Ratih mengerjakan tugas yang ia tidak mengerti. Dngan kebaikan
hatinya Nayla masih menyempatkan waktu untuk membantu Ratih menyelesaikan
tugasnya. Dan seperti kejadian pagi ini juga. Hampir stiap sore aku melihat
Nayla dipinggir jalan memberikan makanan dan buku buku untuk anak jalanan itu.
Aku sempat terheran heran dengan sikap anak ini.
Jauh berbeda dengan kepribadianku, yang menurut orang tidak
ada baik baiknya. Aku dan teman temanku sering menghambur hamburkan uang untuk
sekedar shopping, jalan-jalan, dan nyalon berjam jam. Gak ada kata sederhana
didalamnya.
Aku dulunya membenci Nayla, karna menurutku gaya nya kuno dan gak ada bagus bagusnya, dan aku belum pernah bisa ngalahi dia dalam belajar. Rese’ bangetkan ni anak. Tapi perlahan benci itu hilang, setelah kemarin Nayla membantuku lolos dari ancaman SPO. Karna ulahku disekolah yang sengaja ngerjai Nayla. Dan hebatnya itu anak gak marah dan mau membebaskan ku dari SPO. Dari sejak itu aku mulai membuka diri ke Nayla. Ntah alasan mengapa lagi ntahlaaah… yang pasti saat Nayla tersenyum, senyum itu membuatku tenang.
********
Aku dulunya membenci Nayla, karna menurutku gaya nya kuno dan gak ada bagus bagusnya, dan aku belum pernah bisa ngalahi dia dalam belajar. Rese’ bangetkan ni anak. Tapi perlahan benci itu hilang, setelah kemarin Nayla membantuku lolos dari ancaman SPO. Karna ulahku disekolah yang sengaja ngerjai Nayla. Dan hebatnya itu anak gak marah dan mau membebaskan ku dari SPO. Dari sejak itu aku mulai membuka diri ke Nayla. Ntah alasan mengapa lagi ntahlaaah… yang pasti saat Nayla tersenyum, senyum itu membuatku tenang.
********
Hari ini
pelajaran agama. Dan Aku ditugaskan berdua dengan Nayla mngerjakan tugas yang
diberikan guru agama. Terpaksa siang ini aku harus panas panasan demi mngerjakan
tugas ini bersama nayla.
“allahu akbar.. alahhu akbar…..” tiba-tiba terdengar suara adzan yang menyeru kota ini.
“allahu akbar.. alahhu akbar…..” tiba-tiba terdengar suara adzan yang menyeru kota ini.
“Alhamdullillah .. sudah masuk
waktu ashar, kita singgah ke mesjid dulu ya chik” kata nayla dengan nada bicara
yang lembut.
“buat apa Nay??”
“kok buat apa? Yaa untuk sholat lah.”
Aku terdiam mengangguk angguk, mengikuti langkah perempuan berjilbab ini.
“kok buat apa? Yaa untuk sholat lah.”
Aku terdiam mengangguk angguk, mengikuti langkah perempuan berjilbab ini.
Nayla pun membuka sepatunya dan melangkah menuju ruang yang
didepan nya terterah tulisan “Tempat wudhu” . aku masih terdiam menatap langkah
nayla.
“Kok masih berdiri disini?? Kamu
gak sholat chik?? Sholat yuk..!”
Tanpa banyak tanya aku mengikuti gerak kaki Nayla ketempat
wudhu dan stelah itu aku sholat briringan dengan nayla. Setelah usai berdoa.
Aku beranikan diri untuk bertanya pada gadis ini.
“Nay, knapa kita harus sholat
sih??”
Nayla tersenyum. “Sebagai seorang muslim sholat itu wajib. Sholat juga merupakan tiang agama. Sholat itu ibarat rasa syukur kita kepada Allah SWT”
“hmm.. knapa kita harus bersyukur nay??”
“hmm .. kenapa? Simple aja chik, kita menghirup oksigen tanpa dipungut biaya sepeserpun, kita dapat menikmati dunia ini karna Allah, kita bisa hidup, kita bisa belajar dan semua khidupan yang kamu dapat ini dari Allah juga kan?” jelas Nayla dengan wajah yang tenang.
“Kehidupan?? Mungkin Allah Adil dngan kamu nay, tidak dengan aku”
“lah. Kenapa gitu?”
“yaa.. kamu mempunyai keluarga yang harmonis. Keluarga yang slalu ada buat kamu, yang slalu mngajarkan kamu mengenal Allah. Sedangkan aku? Papa Mama ku bercerai sejak aku kecil. Mama aku membawa aku pergi dan tidak mengizinkan aku bertemu papa, sejak kecil aku selalu sendiri ditemani pembantu paling, bahkan bertemu mama pun aku jarang, aku tidak pernah ngerasa bagaimana rasanya saat mama mengajari aku, terlebih aku gak perna dapat sentuhan agama dari mama. Paling dulu bi’ inah yang mengajari aku gimana sholat.” Terangku seraya menitihkan airmata. Yaa.. keluarga aku broken home dan karna itu aku lupa gimana rasanya brsyukur. Dan aku tak tau mengapa aku harus bersyukur.
“tuhan gak adil ya sama aku?” kata ku lagi kali ini menatap mata nayla.
“Chika.., jangan berkata begitu. Tuhan selalu adil terhadap hambanya. Bukankah allah maha adil? Seharusnya kamu bersyukur dengan kehidupan yang berkecukupan yang Allah berikan kepada kamu . Lihat mereka… iyah. Anak jalanan itu, Nasib nya tidak sberuntung kamu, mereka dibuang dijalanan ini karna minimnya ekonomi keluarga nya , tiap hari mengais nasi dari tong tong sampah itu, memakan makanan yang tak layak untuk dimakan, kalau malam tiba, mereka tidur diemperan toko, ngerasai rasanya dingin malam. Bahkan mereka gak pernah ngrasa’i gimana indahnya bangku sekolah.” Mata Nayla masih menatapku.
Aku memperhatikan anak anak dipinggiran jalan tersebut, Airmataku menetes tak tertahankan lagi. Mungkin Nayla bener aku lebih beruntung dari mreka.. Tapi kenapa aku gak pernah bersyukur selama ini ?, aku gak pernah mengungkapkan rasa terimakasih ku ke Allah?. Bahkan mengenal Tuhanku pun aku tidak. Hmm.. berdosa sekali hamba ini ya Allah. Yang tidak pernah menyebut nama mu, yang tak pernah bertrimakasih atas karunia mu.. hamba yang slalu melupakanmu didera kecamuknya hingar bingar dunia. Aku menangis tak tertahan dibahu Nayla.
“Allah masih maafin aku gak ya nay?” tanyaku pada Nayla dengan penuh pengharapan.
“Allah maha Pemaaf chik.. Allah slalu menerima maaf dari hambanya yang bertobat kok..” kata nayla mengusap bahuku.
Aku tersenyum lega. “Nay, Ajarkan aku mengenal Allah?”
Nayla tersenyum . “Dengan senang hati.”
Nayla tersenyum. “Sebagai seorang muslim sholat itu wajib. Sholat juga merupakan tiang agama. Sholat itu ibarat rasa syukur kita kepada Allah SWT”
“hmm.. knapa kita harus bersyukur nay??”
“hmm .. kenapa? Simple aja chik, kita menghirup oksigen tanpa dipungut biaya sepeserpun, kita dapat menikmati dunia ini karna Allah, kita bisa hidup, kita bisa belajar dan semua khidupan yang kamu dapat ini dari Allah juga kan?” jelas Nayla dengan wajah yang tenang.
“Kehidupan?? Mungkin Allah Adil dngan kamu nay, tidak dengan aku”
“lah. Kenapa gitu?”
“yaa.. kamu mempunyai keluarga yang harmonis. Keluarga yang slalu ada buat kamu, yang slalu mngajarkan kamu mengenal Allah. Sedangkan aku? Papa Mama ku bercerai sejak aku kecil. Mama aku membawa aku pergi dan tidak mengizinkan aku bertemu papa, sejak kecil aku selalu sendiri ditemani pembantu paling, bahkan bertemu mama pun aku jarang, aku tidak pernah ngerasa bagaimana rasanya saat mama mengajari aku, terlebih aku gak perna dapat sentuhan agama dari mama. Paling dulu bi’ inah yang mengajari aku gimana sholat.” Terangku seraya menitihkan airmata. Yaa.. keluarga aku broken home dan karna itu aku lupa gimana rasanya brsyukur. Dan aku tak tau mengapa aku harus bersyukur.
“tuhan gak adil ya sama aku?” kata ku lagi kali ini menatap mata nayla.
“Chika.., jangan berkata begitu. Tuhan selalu adil terhadap hambanya. Bukankah allah maha adil? Seharusnya kamu bersyukur dengan kehidupan yang berkecukupan yang Allah berikan kepada kamu . Lihat mereka… iyah. Anak jalanan itu, Nasib nya tidak sberuntung kamu, mereka dibuang dijalanan ini karna minimnya ekonomi keluarga nya , tiap hari mengais nasi dari tong tong sampah itu, memakan makanan yang tak layak untuk dimakan, kalau malam tiba, mereka tidur diemperan toko, ngerasai rasanya dingin malam. Bahkan mereka gak pernah ngrasa’i gimana indahnya bangku sekolah.” Mata Nayla masih menatapku.
Aku memperhatikan anak anak dipinggiran jalan tersebut, Airmataku menetes tak tertahankan lagi. Mungkin Nayla bener aku lebih beruntung dari mreka.. Tapi kenapa aku gak pernah bersyukur selama ini ?, aku gak pernah mengungkapkan rasa terimakasih ku ke Allah?. Bahkan mengenal Tuhanku pun aku tidak. Hmm.. berdosa sekali hamba ini ya Allah. Yang tidak pernah menyebut nama mu, yang tak pernah bertrimakasih atas karunia mu.. hamba yang slalu melupakanmu didera kecamuknya hingar bingar dunia. Aku menangis tak tertahan dibahu Nayla.
“Allah masih maafin aku gak ya nay?” tanyaku pada Nayla dengan penuh pengharapan.
“Allah maha Pemaaf chik.. Allah slalu menerima maaf dari hambanya yang bertobat kok..” kata nayla mengusap bahuku.
Aku tersenyum lega. “Nay, Ajarkan aku mengenal Allah?”
Nayla tersenyum . “Dengan senang hati.”
Sejak Hari itu
aku mulai sholat dan mengaji dengan bantuan Nayla. Nayla banyak mengajarkanku
tentang ilmu Agama , Dia tak jarang membawa’i ku buku buku tentang agama,
tuntunan sholat lengkap, bagaimana menjadi muslim sejati dan banyak buku
lainnya. Aku belajar banyak ilmu agama dari Nayla. Dan tentu nya jg bantuan
ustadzah Nina. Kenalan yang dikenalkan nayla kepadaku. Nayla sering mengajakku
ikut serta dalam pengajian dan mentoring agama, yaaa… itung itung nambah ilmu
agama . Aku gak pernah lagi tuh shoping-shoping gak jelas, Hunting, nyalon
bareng teman teman ku yang dulu pun tak pernah lagi ku lakukan . ini membuat
teman temanku yang dulu pada heran dan marah marah dngan kebiasaanku yang
sekarang. Aku coba jelasin sama mereka. Tapi mereka malah tertawa sinis
menatapku. Yaaa…. Aku berharap mereka mengerti.. L
Sore itu Nayla
janji mau kerumahku membawa hadiah buatku karna alhamdulillah sekarang aku
sudah lancar membaca al-qur’an. Dalam hati aku bertanya tanya kira kira hadiah
apa ya yang dibawa Nayla. Hmm.. Nayla memang sahabat yang penuh kejutan. Yaa..
Nayla sahabat sebenarnya bagiku.
Lama sekali aku menunggu, Nayla tak kunjung tiba . jantungku
berdetak tak karuan memikirkan Nayla. Tiba-tiba bi’ Inah memanggilku dengan
suara yang nyaris 8 oktaf.
“kenapa sih bi? Ohya.. nayla
belum datang ya…??” tanyaku heran.
“itu non masalah nya. tadi ada yang nelpon katanya Nayla….” Bi inah masih tergagap dengan kata kata nya.
“gak jadi datang? Hmm.. pasti dia ada janji mentoring ya bi’” sambungku ringan.
“itu non masalah nya. tadi ada yang nelpon katanya Nayla….” Bi inah masih tergagap dengan kata kata nya.
“gak jadi datang? Hmm.. pasti dia ada janji mentoring ya bi’” sambungku ringan.
“Bukan non, Nayla kecelakaan”
“hhah?? Nayla kecelakaan bi’?? bibi jangan bercanda??” kataku panik sekali ,
“dan me-ning-gal” lanjut bi inah kali ini terseduh dengan kata terakhirnya.
“APA??? NAYLA MENINGGAL?? Hhah?? GAK MUNGKIN!” teriakku gak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku jatuh terduduk , mataku panas, buliran buliran airmatapun jatuh membasahi pipiku. “Nayla gak mungkin meninggal” runtukku dalam hati. Aku berlari secepat kilat menju rumah Nayla yang saat itu sudah tergantung bendera merah. Bergegas aku masuk melihat seonggok mayat terbaring ditengah ruang tamu dikelilingi orang orang yang tak henti membaca yasin dan doa doa. Ku lihat senyumnya, wajah seputih kertas itu. Yaa.. itu Nayla. Sosok yang mngenalkanku kepadamu ya Rabb..,
Aku terduduk lemas. Tuhan, katakan padaku ini Cuma mimpi, ini hanya mimpiku saja. Sosok sebaik nayla. Kenapa harus pergi secepat ini?? Aku masih membutuhkan dia untuk mengajarkanku mengenalmu, ya Rabb.. L
“hhah?? Nayla kecelakaan bi’?? bibi jangan bercanda??” kataku panik sekali ,
“dan me-ning-gal” lanjut bi inah kali ini terseduh dengan kata terakhirnya.
“APA??? NAYLA MENINGGAL?? Hhah?? GAK MUNGKIN!” teriakku gak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku jatuh terduduk , mataku panas, buliran buliran airmatapun jatuh membasahi pipiku. “Nayla gak mungkin meninggal” runtukku dalam hati. Aku berlari secepat kilat menju rumah Nayla yang saat itu sudah tergantung bendera merah. Bergegas aku masuk melihat seonggok mayat terbaring ditengah ruang tamu dikelilingi orang orang yang tak henti membaca yasin dan doa doa. Ku lihat senyumnya, wajah seputih kertas itu. Yaa.. itu Nayla. Sosok yang mngenalkanku kepadamu ya Rabb..,
Aku terduduk lemas. Tuhan, katakan padaku ini Cuma mimpi, ini hanya mimpiku saja. Sosok sebaik nayla. Kenapa harus pergi secepat ini?? Aku masih membutuhkan dia untuk mengajarkanku mengenalmu, ya Rabb.. L
Pemakaman Nayla hari ini begitu
hikmat, bnyak pelayat yang merasa kehilangan sosok insan sperti Nay, nenek itu,
anak anak jalanan mereka menangis kehilangan sosok malaikatnya. Ibu Nayla
mendekatiku ,mengusap bahuku dan memberikan seebuah bingkisan buatku “dari
nayla, untuk kamu”
Ku buka perlahan bingkisan itu
dan kudapati sebuah buku yang berjudul “Jilbab wanita muslimah” karya M.
nashiruddin Al-Abani. Dan didepan buku itu kudapati tulisan dari Nayla .
|
“pada akhirnya kehidupan ini
akan berakhir ditangan yang kuasa, slagi ada waktu marilah kita meraih
ridho ilahi. Semoga kita menjadi muslimah sejati . amin” .Nayla.
|
Sudah
saat nya aku menjadi orang yang lebih baik. Nayla tlah bnyak mengajarkanku
mengenalmu ya rabb, Aku berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik lagi. ”
Nay, Terimakasih untuk apa yang kamu berikan selama ini, terimakasih untuk ilmu
dan keikhlasan yang kau ajarkan. Aku janji Nay, Akan menjunjung tinggi Islam
dan menyuarakan Islam dengan baik. Mulai sekarang aku akan menutup auratku
secara haqiqi. Islam Agama yang benar dan mengajarkan kebenaran. “Ya Allah,
terima sahabatku disisimu, sampai akhirnya nanti semoga kita dipertmukan di
tempat paling Mulia . yaitu surgaMu.. Amin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar