"Malam minggu ini mau jalan kemana?"
"hm.. kayaknya gak bisa jalan deh no." jawabku lemah. "Lah kenapa?" tanyanya masih menyeruput isotoniknya hingga kandas. "iya. malam minggu ini kan, anak remaja mesjid buat acara maulid'an".
"ohya? malam minggu ini? jadi persiapan kamu gimana? jadi protokol kan?!" tanya Nino antusias.
"iya joyeq ku, degdegan banget nih" kataku manja. "percaya deh, cewe aku yang pesek ini pasti bakalan keren banget deh bawa'i acaranya" katanya mencubit lembut hidungku yang hampir kandas. "Iya.. Biar aku gak gerogi. kamu da...." tiba-tiba saja kataku terhenti, aku tercekat dan disadarkan oleh kalung salib yang brgantung dileher nino. ahh.. aku tiba-tiba lupa , perbedaan yang membentengi kami berdua. "Da..?" tanyanya penasaran dengan katakataku. "Da.. doa'i aku maksudnya". Nino memandangku teduh, sepertinya dia mengetahui maksudku yang tak tersiratkan tadi. "Aku pasti lihat kamu kok, meski dari kejauhan." Nino memandang mataku , menggenggam tanganku dan dari situ lah aku temukan ketenangan yang tak bisa aku jelaskan.
Jantungku berdegup kencang tak karuan, darahku mengalir , rasarasanya ya seperti menaiki roller coaster dan terhempas begitu saja. aku gugup. ahh... disaat seperti ini aku membutuhkan Nino untuk menenagkan aku. saat seperti dia meredakan kegugupan ku dngan genggaman tangannya saat festival puisi tempo hari. ahh.. Nino.. andai saja... *yah.. lagi lagi aku berharap Nino ada disini, ditempat para kaum muslimin berkumpul dan berdoa. mesjid. tapi apakah mungkin?. Ponselku berbunyi, pesan singkat Nino "Lihat Kearah Pohon deh" . akupun mencari Pohon yang nino maksud, Nino memarkirkan Ninja nya didekat pohon dan melambaikan tangan kearahku. tiba-tiba pesan Nino masuk lagi "Aku akan Selalu ada Untukmu, Semangat !!". Aku tersenyum membaca pesan singkat Nino. "Udah mau dimulai tuh" Lisa membuyarkan lamunanku dan menggandengku kearah pentas. entah ada kekuatan apa, aku merasakan kepercayaan diriku kembali . aku menaiki anak tangga dengan semangat dan membawakan acara dengan lancarnya. Pukul 12 Malam acara itu selesai, Mungkin Nino sudah pulang dari tadi pikirku. "God Job Honey, Kamu bagus banget deh jadi MC. GNight MyDear . ILYSM" Nino masih disini. pikirku. aku pun mencari-cari Nino diantara pohon-pohon tadi ya benar saja, Nino masih disitu , bersiap untuk menggas ninja nya tak lupa sebelumnya melambaikan tangan kerahku, dia pergi ditelan keheningan malam itu.
Minggu Sore ditaman kota. aku menunggu Nino duduk terpaku memandangi kanak-kanak yang berlari bermain disekeliling taman. "Maaf ta, aku telat" ucapnya duduk disampingku. "aku mengerti, bagaimana tadi?". "puji tuhan, anak anak sekolah minggu ramai yang datang, mereka mulai menghapal lagu puji-pujian." . aku masih memandang kedepan hampa. "kamu kenapa?" tanya Nino. "gapapa kok , kemajuan yang sangat pesat ya anak-anak itu." sambung aku mengenai cerita Nino ada hal yang mengganjal dihati aku. tapi yasudahlah.. aku tak ingin menceritakannya.
kami pun berjalan menyusuri taman kota yang tebilang ramai oleh pengunjung, Nino berinisiatif membeli es krim yng sangata menggiurkan untuk kami, saat dia hendak membayar dan merogoh tasnya, tiba-tiba sebuah kertas gambar terjatuh , aku memungutnya. aku membuka kertas tersebut yang aku temukan sebuah gambar arsitektur sebuah gereja yng terbilang terkenal di Jakarta "Katedral" ucapku pelan. "Iya. katedral, aku punya harapan digereja itu aku akan melangsungkan pernikahan dengan orang yang sangat kucinta'i" ucap Nino memandang lurus, jauh entah kemana. aku tercekat, rasanya aku ingin menitihkan bulir airmata yang ingin kujatuhkan sejak tadi.
Nino beralih pandang kepadaku, dia menatapku dengan keteduhan. dia menghapus bulir airmata yang jatuh dari pipiku. "Don't Cry Mydear" ucapnya pelan. aku terduduk pelan. "Aku heran dengan perbedaan" ucap Nino lagi. "Kenapa?" tanyaku berusaha kuat. "kenapa kita harus berbeda coba, hanya karna cara menyembah yang berbeda" . "Bukannya dengan perbedaan yang membuat kita mempunyai ciri ragam?" sambungku. "ahh.. perbedaan !! Bhineka tunggal ika diciptakan karna perbedaan beda suku, ras, status sosial dan bisa jadi satu, tapi kenapa dua orang yang saling mencintai hanya karna perbedaan keyakinan tak bisa bersatu??" ucap Nino menggeleng-geleng.
"Benteng aqidah yang tinggi no" jawabku seadanya. "Lalu mengapa Tuhan menciptakan Cinta? kalau bukan tuk disatukan". "aku juga tak mengerti" .
Pikirnku melayang-layang mengingat semua kata-kata Nino. kenapa tuhan menciptakan cinta. kalo tidak untuk dipersatukan! mengapa Tak ada penyatuan 2 insan seperti kami, hanya saja cara menyembah yang berbeda?. ahh aku tak mengerti..
aku mencintai seorang yang mengenakan kalung salib dilehernya, mengapa aku mencintai pemuda gereja yang yang bercita-cita menikah dikartedral. sementara aku? aku hanya seorang muslimah yang masih menghadap kiblat , seorang remaja mesjid yang bercita-cita menunaikan ibadah haji bersama keluarga kecilku kelak. Tak mungkin menikah didalam katedral. seperti impian Nino.
Sore itu dalam keheningan angin yang berbisik lembut.
"Aku ingin kita berjalan masing-masing, kamu menuju Katedral dan aku menuju Istiqlal" ucapku lirih.
Nino menatapku dalam " are you sure?" tanyanya.
"i'm sure !! tak ada penyatuan untuk 2 insan yang berbeda no"
"tapi cinta? bukankah cinta penyatu seglanya?"
"bahkan Cinta tak dapat menembus benteng terbesar kita" kataku meneteskan bulir airmata yang mulai terjatuh.
"ok. aku mengerti. kita berbeda , tak ada penyatuan untuk insan yang berbeda keyakinan , termasuk cinta tak dapat menyatukan segalanya dengan indah. i'm really love you." ucap Nino memelukku erat. mungkin ini pelukan terakhir dari 2 insan yang tak bisa dipersatukan dengan Cinta, Dua insan yang saling mencintai dalam perbedaan. Dua insan yang terpaksa harus merelakan Cinta demi satu alasan. "PERBEDAAN" .
"I love you too" ucapku lirih melangkah pergi meninggalkan Nino dibawah gerimis yang mulai membasahi Bumi... :
END
Untuk 25 September yang tak bisa
dipersatukan oleh cinta.
Untuk 25 september yang hanya akan
menjadi kenangan tanpa penyatuan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar